Rabu, September 17, 2008

Kuya dan Domba

Ini cerita menghibur yang udah lama sekali, disadur dari sebuah buku perenungan, tapi g da lupa buku apa y, haha. But I always love this story ^^


Seorang gembala sedang menggembalakan dombanya. Seorang yang lewat berkata, “Engkau mempunyai kawanan domba yang bagus. Bolehkah saya mengajukan beberapa pertanyaan tentang domba-domba itu?” “Tentu”, kata gembala itu. Orang itu berkata, “Berapa jauh domba-dombamu berjalan setiap hari?” “Yang mana, yang putih atau yang hitam?” “Yang putih.” “Ah, yang putih berjalan sekitar enam kilometer setiap hari. “Dan yang hitam?” “Yang hitam juga.”

“Dan berapa banyak rumput mereka makan setiap hari?” ”Yang mana, yang putih atau yang hitam?” ”Yang putih.” ”Ah, yang putih makan sekitar empat pon rumput setiap hari.” ”Dan yang hitam?” ”Yang hitam juga.” ”Dan berapa banyak bulu yang mereka hasilkan setiap tahun?” ”Yang mana, yang putih atau yang hitam?” ”Yang putih.” ”Ah menurut perkiraan saya, yang putih menghasilkan sekitar enam pon bulu setiap tahun kalau meraka dicukur.” ”Dan yang hitam?” ”Yang hitam juga.”

Orang yang bertanya menjadi penasaran. ”Bolehkan saya bertanya, mengapa engkau mempunyai kebiasaan yang aneh, membedakan dombamu menjadi domba putih dan hitam setiap kali engkau menjawab pertanyaanku?” Gembala itu menjawab, ”Tentu saja. Yang putih adalah milik saya.” ”Ooo, dan yang hitam?” ”Yang hitam juga,” kata gembala itu.

Pikiran manusia membuat pemisahan-pemisahan yang bodoh, yang oleh Sang Kasih dilihat sebagai satu.

Kadang g bertanya2 sama diri g sendiri, apakah g jadi orang udah bener-bener "bener" hahaha. Kaenya enggak hehe. Setelah baca cerita ini, g sempet merenung hal2 yang mendasar yang ada pada diri g sendiri, and g koq jd inget sama kuya2 g di rumah y? Hehehe. Ini adalah cerita perilaku gag dewasa g dulu. Di rumah, g piara byk kuya, sekitar ada 10 ekor. Dulu malah lebih banyak lagi ada 20an jenis kaenya. Trus banyak yang mati & ada juga yang dibeli orang. Sekarang sisa 10 ekor, and itu aja udah repot urusnya haha. Semua kuya g ini kuya air, and jenisnya sangat bervariasi, juga harganya ada yang murah and mahal.

G masih inget, dulu g miara kuya udah kae simpen banyak harta hahaha. G seksi repot banget, tiap hari kerjanya mikirin itu kuya2 ajah, trus pengen beli inilah itulah buat kuya. Sekarang siy biasa2 ajah rasanya haha. G jd inget tingkah laku g dulu. G dulu suka misahin tu kuya, antara yang mahal and murah. Yang mahal g beliin makanan yang bagus, trus yang murah g kasi pellet biasa. Kl yang mahal sakit g panik banget, g buru2 cariin obat spy cepet sembuh, ampe telp sana-sini. Trus kl yang murah sakit, g gag terlalu pusing, dlm hati g pikir, "ah cuman goceng!" (kasian banget jadi kuya murah ---> ini biasanya nasib kuya Red Ear Slider alias Brazil). Trus g suka misahin akuariumnya, g resah gabungin antara yang mahal & murah. Takut yang mahal diisengin. Yang mahal rajin g bersiin tempatnya, yang murah ngak. Intinya yang mahal terawat baik, and yang murah gag terawat.

Suatu hari, g liat anakan kuya2 Brazil ini pada ga mau makan. Keliatannya diem2 aja and lemes. Tp g gag terlalu resah, karena dalam kepala, g cmn judge mereka tu kuya murah. Tapi makin hari, g liat mereka makin kurus, and merem2, gag mo makan. Pokoknya diemmmm aja. Akhirnya, g keluarin dari akuarium, and g mencoba perhatiin. Ternyata di kaki2 mereka tumbuh byk white spot (jamur bahaya yang sering nyerang kuya, kl udah parah si kuya bakal gag mau makan). G perhatiin lagi, expresi kuyanya merana banget, lehernya memanjang keluar and keliatan kurus gitu, kaki2nya juga pada kurus, perutnya kempes, pertanda gag makan.

G liat2 lagi jadi kasian and g mikir2 sendiri, koq bisa gini ya. G akhirnya sadar, and mrasa dosa >.< Karena mereka kuya murah, g kasi makanan yang murah, g jarang bersiin tempatnya, g gag perhatiin kebersihan mereka, trus g kurang sayang. Coba kalo g perlakukan sama spt yang laen, mungkin gag sakit2 kae gini. Padahal kl dipikir2, mereka sama2 kuya air juga, sama2 pengen idup dengan baik kae kuya yang lain. Sama2 perlu diperhatikan. Cuman gara2 mereka lebih murah, nasibnya tragis banget, cuman jadi aksesoris yang gag disayang. Aih g koq jadi sedih siy (T~T)...Akhirnya, g obatin pake obat pembasmi white spot, selang beberapa hari, mereka malah mati. G tau, it's too late...Udah parah baru diobatin...Maafkan g ya para anak2 kuya, g nyesel...

Abis kejadian2 itu, g bertekad, mo kuya g kae apa, mo harga berapa juga, g bakal rawat sama kae yang lain...G kasi makan gag mo pilih kasih lagi. Trus kalo kotor pasti airnya g ganti, kalo sakit langsung g obatin...G jg nyadar, piara banyak2 kuya juga gag ada gunanya, malah bikin g tambah serakah (ini bener2 g rasain), kalo ternyata g gag sanggup rawat dengan baik, malah bikin mereka tambah sengsara...so g sejak itu menghindari beli2 kuya lagi...malah ada yg g kasi ke orang...hehehe.

Seperti dlm cerita karya Ajahn Chah, sifat makin serakah, justru bikin kita makin ngak bahagia...karena makin banyak yang gag bisa kita relain...hahaha...

Dari kejadian itu, paling ngak g mulai nyadar, kl g kudu lebih sayang sama apa yang udah g punya...and g seharusnya mencoba belajar untuk melihat sesuatu apa adanya, gag melulu g beda2in ini itulah. Maafkan gua y para kuya hiks...Btw, sekarang kuya2 g da pada lumayan gede, and syukurlah sehat2 semua haha...

Metta Cittena.

TPS - Toss Card